Hari ini tanggal 30 Desember 2025. Tahun 2026 tinggal menghitung jam. Di momen kritis ini, tugas seorang pemimpin bisnis bukan lagi sekadar melihat spion (laporan masa lalu), melainkan melihat ke depan melalui kaca depan yang bersih.
Untuk melakukan itu, Anda harus menguasai cara membuat forecast.
Namun, banyak pebisnis salah kaprah. Mereka pikir forecast hanya soal “target penjualan”. Padahal, prediksi bisnis yang sehat harus mencakup empat pilar yang saling terhubung: Sales (Penjualan), Demand (Permintaan), Inventory (Stok), dan Cash Flow (Arus Kas). Jika salah satu meleset, yang lain akan runtuh.
Artikel ini akan memandu Anda memahami cara membuat forecast untuk keempat elemen vital tersebut agar bisnis Anda siap berlari kencang di awal tahun 2026.
1. Cara Membuat Sales Forecasting (Mesin Pendapatan)
Ini adalah langkah pertama. Sales forecast menjawab pertanyaan: “Berapa banyak uang yang akan masuk?”
Cara melakukannya:
- Analisis Historis: Tarik data penjualan tahun 2024 dan 2025. Cari pola pertumbuhan rata-rata.
- Pipeline Penjualan: Untuk bisnis B2B, lihat nilai kontrak yang sedang dinegosiasikan. Untuk ritel, lihat tren kunjungan toko/web.
- Rencana Marketing: Masukkan variabel promosi. Jika Januari 2026 Anda akan bakar uang untuk iklan, angkanya harus dinaikkan.
Tujuan: Menetapkan target yang realistis untuk tim penjualan dan estimasi pendapatan kotor.
2. Cara Membuat Demand Forecasting (Denyut Nadi Pasar)
Banyak yang bingung bedanya Sales dan Demand.
- Sales adalah apa yang berhasil Anda jual (dibatasi oleh stok).
- Demand adalah apa yang sebenarnya diinginkan pasar (termasuk pelanggan yang batal beli karena stok habis).
Cara melakukannya:
- Identifikasi Musiman: Apakah produk Anda laku keras saat Imlek atau Lebaran?
- Faktor Eksternal: Perhatikan tren ekonomi 2026, perubahan selera konsumen, atau cuaca.
- Data Stockout: Tambahkan estimasi penjualan yang hilang (lost sales) di masa lalu ke dalam prediksi permintaan masa depan.
Tujuan: Mengetahui potensi pasar yang sebenernya agar tidak kehilangan peluang.
3. Cara Membuat Inventory Forecasting (Keseimbangan Gudang)
Setelah tahu permintaan (Demand), barulah Anda bisa merencanakan stok. Ini menjawab: “Berapa banyak barang yang harus dibeli agar cukup untuk memenuhi permintaan, tapi tidak menumpuk jadi sampah?”
Cara melakukannya:
- Hitung Safety Stock: Stok penyangga untuk jaga-jaga jika pengiriman supplier telat.
- Tentukan Reorder Point: Di titik sisa berapa unit Anda harus memesan ulang?
- Lead Time: Masukkan durasi pengiriman dari pemasok.
Tujuan: Mencegah dua mimpi buruk: Stockout (barang kosong) dan Dead Stock (barang mati/usang).
4. Cara Membuat Cash Flow Forecasting (Napas Bisnis)
Inilah muaranya. Bisnis bisa untung di atas kertas (Sales tinggi), tapi bangkrut karena tidak ada uang tunai (Cash Flow macet).
Cara melakukannya:
- Arus Masuk (Inflow): Berdasarkan Sales Forecast, kapan pelanggan akan bayar? (Ingat, penjualan kredit berarti uang belum masuk).
- Arus Keluar (Outflow): Berdasarkan Inventory Forecast, kapan Anda harus membayar pemasok untuk stok baru? Tambahkan biaya operasional (gaji, sewa).
Tujuan: Memastikan Anda punya uang tunai untuk operasional bulan Januari 2026 dan seterusnya.
Masalah Utama: Integrasi Manual Itu Mustahil
Mempelajari langkah-langkah cara membuat forecast di atas secara teori memang mudah. Tapi praktiknya? Sangat menyakitkan.
Bayangkan Anda menggunakan Excel.
- Tim Sales punya file Excel sendiri.
- Tim Gudang punya file Excel sendiri.
- Tim Keuangan punya file Excel sendiri.
Datanya tidak sinkron. Jika Tim Sales merevisi target naik 20%, Tim Gudang sering telat tahu sehingga stok kurang. Tim Keuangan panik karena tagihan supplier membengkak tanpa persiapan.
Di tahun 2026 yang serba cepat ini, metode manual yang terpisah-pisah (silo) adalah resep kegagalan.
Solusi Terintegrasi: Foreplan.id (AI untuk Semua Forecast)
Anda tidak perlu menjadi ahli statistik untuk menguasai keempat jenis forecast di atas. Anda hanya perlu alat yang tepat. Foreplan.id adalah AI Tools yang mengintegrasikan Sales, Demand, dan Inventory dalam satu platform cerdas.
Bagaimana Foreplan Bekerja?
- Satu Sumber Data: Foreplan menarik data historis Anda dan menjadi “satu-satunya sumber kebenaran”.
- AI Otomatis: Algoritma kami memprediksi Demand dengan akurat (mempertimbangkan tren & musim), lalu otomatis menghitung kebutuhan Inventory.
- Visibilitas: Dengan prediksi stok pembelian yang jelas, Anda bisa memproyeksikan kebutuhan Cash Flow untuk belanja barang dengan presisi.
Mulai Tahun 2026 dengan Langkah Pasti (Free Trial 15 Hari)
Hari ini 30 Desember. Jangan biarkan bisnis Anda masuk ke tahun 2026 dengan perencanaan yang bolong-bolong.
Foreplan.id memberikan kesempatan bagi Anda untuk menyinkronkan seluruh prediksi bisnis Anda.
Dapatkan FREE TRIAL Selama 15 Hari!
Daftar sekarang juga. Dalam hitungan menit, Anda bisa melihat prediksi permintaan dan rekomendasi stok untuk awal tahun 2026.
- Integrasikan data Sales dan Inventory.
- Hindari kebocoran Cash Flow akibat overstock.
- Buat keputusan strategis berbasis data AI.
Kesimpulan
Mengetahui cara membuat forecast yang terintegrasi antara Sales, Demand, Inventory, dan Cash Flow adalah kunci ketahanan bisnis. Jangan pusing dengan rumus manual. Biarkan AI Foreplan yang menghitung, agar Anda bisa fokus memimpin bisnis.
Aktifkan Free Trial 15 Hari Foreplan.id Sekarang & Sambut 2026 dengan Strategi Matang!




